Short-Stories: Erase- Part 5 ‘Good-bye’

“Iya ibu, keputusanku ini sudah bulat. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Temanku juga sudah membantuku”, jawab Linda kepada ibunya di telepon.

“Apakah kau yakin? Pikirkanlah sekali lagi Linda, untuk apa beasiswamu itu?”, tanya ibunya. “Kau akan segera lulus, mengapa kau ingin pindah dan meninggalkan beasiswamu itu?”

“Tenang ibu, aku sudah menghubungi pihak kampus. Aku tetap mendapatkan beasiswaku.” Linda tersenyum mendengarkan ibunya.” Kebetulan, kampusku dan Melbourne School of Design memiliki kerja sama sehingga aku masih bisa melanjutkannya dengan beasiswa.”

Ibunya menghela napas. “Oh, benarkah? Kau membuatku terkejut! Itu adalah berita yang bagus untuk didengar!”

“Iya ibu, jangan terlalu khawatir. I can take care of myself well”, jawab Linda sambil membereskan meja belajarnya. Ia sudah mulai membereskan barang-barang yang tidak terlalu dipakainya lagi. “Ya, ya baiklah, aku percaya padamu. Namun, seorang ibu tentu akan tetap khawatir dengan anaknya.”

“Oh ya, bagaimana dengan kabarmu dan John?”

Linda terdiam. Ia menghentikan apa yang ia lakukan.

“Sudah lama kau tidak membicarakannya lagi dengan ibumu ini.”

Linda ingin sekali memberi tahu ibunya tetapi ia belum siap pada saat itu. Sudah ia putuskan bahwa ia tidak ingin bersedih lagi. Tetapi, rasa sedih itu tidak bisa hilang begitu saja. Ia menarik nafas dalam-dalam.

“Kami sudah tidak bersama lagi, ibu.”

“Oh, jangan bercanda Linda. Kalian selalu bersama.” Perkataan Linda dianggap sebagai sebuah lelucon. “Tidak ibu, aku mengatakan yang sebenarnya.” Linda menahan air mata untuk kesekian kalinya. Bercerita dengan ibunya tentu akan membuatnya sedih lagi.

“Baiklah, ceritakan semuanya kepadaku.”

Linda mulai menceritakan semuanya dari awal. Ia mulai menangis lagi dan ibunya mendengarkan saja semua yang ia ceritakan. Selain itu, Linda juga menceritakan lagi masa-masa menyenangkan bersama John dan kembali tersenyum. Ia merasa lega setelah menceritakannya kepada ibunya. Jawaban yang diberikan ibunya memberikan ketenangan. Ia mengingatkan Linda untuk tetap kuat dan jangan terlalu lama terlarut dengan kesedihan itu.

“Terima kasih ibu, aku sangat merindukanmu.”

“Aku dan ayahmu juga merindukanmu, pulanglah musim semi nanti.”

“Baiklah ibu, aku akan beres-beres dulu. Nanti aku hubungi lagi.”

“Baiklah, goodnight.”

“Goodnight too.”  Linda menutup teleponnya.

Ia melihat sekeliling kamarnya. Hanya beberapa barang lagi yang tersisa. Ia duduk di tempat tidurnya. Tak terasa, apartemen mungil itu memiliki banyak kenangan juga. Ia akan merindukan apartemennya itu.

“Ring.. ring..”

Linda mencari ponselnya. Sebuah pesan dari pria itu. Ya, John Bolton, orang yang paling tidak ingin ia ingat. Namun, ia memutuskan untuk membuka pesan itu.

Apa kabarmu? Aku ingin bertemu.”

“Lelucon macam apa lagi ini?” Linda merasa bingung dan kesal. “Tidak, tidak. Aku tidak akan bertemu dengannya lagi.” Linda menghapus pesan itu lalu ia berbaring untuk tidur.

 

***

 

Semua persiapan sudah selesai. Tiket tujuan Melbourne sudah berada di tangannya dan barang-barangnya sudah ia kirim ke apartemen barunya di Melbourne. Linda juga sudah menghubungi dan memberikan kunci apartemennya kepada pembeli apartemennya.

Malam sebelumnya, ia diberikan kejutan farewell party dari sahabat-sahabatnya. Linda bahagia dan sedih juga untuk berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Namun, mau tidak mau, ia harus pergi.

“Aku hanya meminta kalian untuk tidak memberitahukan hal ini kepada John. Biarlah ia melupakanku karena kami tidak saling menghubungi lagi. Mengerti?” Salah satu sahabatnya, May, memeluknya dan berkata, “Baiklah, kami akan melakukannya.”

Linda menaiki taksi dan pergi menuju bandara. “Aku sudah dalam perjalanan menuju bandara ibu. Aku akan menghubungimu lagi.” Linda tersenyum. “Baiklah, hati-hati dalam perjalananmu. Jangan lupa makan siang.” Linda tertawa. “Baiklah ibuku yang sangat baik.” Lalu, ia menutup teleponnya.

Tak dirasa, sudah cukup lama ia tinggal di London dengan banyak kenangan. Sekarang, ia akan pergi meninggalkan negara yang sudah menjadi rumah kedua baginya. Ia menikmati pemandangan kota London selama perjalanan menuju bandara.

Di saat yang hampir bersamaan, John mendatangi apartemen Linda.

“Ding dong”

Pintu apartemen dibuka oleh seorang pria.

“Ya, anda ingin mencari siapa?”

Sorry, tapi bukankah ini rumah Linda Lee?”

“Oh, Linda Lee menjual apartemen ini kepada kami. Sekarang kami yang tinggal disini.”

John terdiam sesaat. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Setelah sekian lama tidak datang ke kampus, sekarang ia menjual apartemennya. Apa yang sebenarnya Linda pikirkan?

“Maaf sebelumnya, apakah anda temannya?”, tanya pemilik apartemen yang baru.

“Oh ya, saya temannya. Apakah bapak tahu dimana dia sekarang?”

“Belum lama tadi, setelah memberikan kunci apartemen kepada kami, ia naik taksi menuju bandara.”

“Bandara?” John terkejut.

“Ya betul, belum lama tadi ia pergi.”

“Baiklah, terima kasih pak.” John bergegas menuju mobilnya dan pergi menuju bandara.

Apa yang kau rencanakan Linda Lee?”

Banyak pertanyaan terlintas di pikiran John.

Ring… ring.. ring..

Tom, teman kampusnya menelepon.

“Halo? Ada apa Tom?”

“Ada kabar baru yang harus ku sampaikan”, jawab Tom.

“Katakanlah cepat, aku sedang terburu-buru.” Memang, saat itu John mengendarai mobilnya secepat mungkin.

“Baiklah, Linda Lee sudah resmi bukan mahasiswa kampus kita lagi. Ia keluar dari kampus kita.”

Kabar yang mengejutkan dan tidak ingin ia percaya.

“Hei, John. Apakah kau mendengarkanku?” John tidak berkata apa-apa dan mematikan telepon.

Apa yang ia inginkan? Ia sudah gila!”

John memukul stir mobilnya dan mengendarai mobilnya lebih cepat lagi.

Linda sudah sampai di bandara dan sudah siap masuk ke dalam. Namun, langkahnya dihentikan oleh genggaman tangan seseorang. Ia berbalik lalu melihat bahwa orang itu adalah John. Ia terkejut dan terdiam.

“APAKAH KAU SUDAH GILA?” John terdengar kesal dan suaranya cukup besar untuk menarik perhatian semua orang. Tetapi, bandara pada waktu itu sangat ramai sehingga suaranya tidak terdengar begitu besar.

“Lepaskan aku sekarang. Aku harus pergi”, jawab Linda sambil mencoba melepaskan genggaman John. “Lepaskan aku, John.” John menarik dan memeluknya. Linda berusaha melepaskan pelukan itu tetapi John tetap memeluknya erat.

“Jangan pergi, aku mohon”, John terdengar sangat sedih. Ya, ia tidak menyangka Linda akan mengambil keputusan seperti ini. Ia tidak ingin kehilangan Linda.

“Tidak, aku harus pergi.”

John melepaskan pelukannya. “Mengapa?”

This is the best way for both of us. Aku akan memulai hidup yang baru, begitu juga dengan kau John”, Linda tersenyum memandangi John. John terdiam dan menunduk. Ia hanya bisa menyesal dengan keputusannya dulu. Linda memegang dan mengangkat wajahnya sehingga kedua mata mereka bertemu.

“Dengarkan aku. Jangan menyalahkan dirimu. Biarlah apa yang sudah terjadi berlalu. Untuk apa kau sesali sekarang? Hiduplah dengan baik dan jaga dirimu. Kita akan segera lulus. Kejarlah cita-citamu itu dan buatlah orang tuamu bangga. Aku percaya kau bisa melakukannya, benar bukan?”

John memandangi Linda.

Linda Lee, seorang wanita yang berarti baginya sekarang akan pergi untuk meninggalkannya. Entah untuk selamanya atau sementara, yang ia tau sekarang hanya Linda akan meninggalkannya. Tetapi, setelah apa yang terjadi, apa yang bisa ia lakukan? Linda sudah memutuskan apa yang akan ia lakukan. Ia hanya bisa menerima keadaan yang ada.

John melepaskan genggamannya.

Thank you, take care John.”

Linda memeluk John lalu berjalan menuju ruang tunggu. Air mata yang ditahan oleh Linda akhirnya memenuhi wajahnya. Ia sudah siap untuk meninggalkan London dan semua kenangan yang ada.

John kembali ke mobilnya. Ia termenung dan tanpa ia sadari wajahnya sudah dibasahi oleh air mata. Perpisahan yang tidak pernah ia harapkan terjadi. Ia menyalahkan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan bandara.

 

5 tahun kemudian

“Iya ibu, kami baru saja sampai di London. Nanti akan ku hubungi lagi ketika sampai di hotel. Bye”, Linda mengakhiri telepon dengan ibunya. “Sepertinya ibumu terlalu khawatir ya?”, tanya Ron. “Yeah, you’re right.” Linda tertawa kecil. “Ayo, aku lelah sekali dan ingin segera tidur di hotel.” Ron tersenyum dan merangkul Linda. “Okay, come on.”

Ron Smith, pria yang Linda temui di Australia. Seorang pria yang menyembuhkan rasa sedih yang sudah lama ia rasakan. Mereka berdua akhirnya membuat project design bersama dan akhirnya diundang untuk datang di pameran design di London. Linda tidak menyangka akan datang lagi ke London. Ia sudah menghubungi sahabat-sahabatnya dan mereka akan reuni bersama.

“Kau sudah sampai Linda?”, tanya May.

“Sudah, belum lama kami landing”, jawab Linda.

“Wah! Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu dan juga calon suamimu itu!” May menjawab dengan semangat.

“Ya, ya, akan ku pastikan kalian terpesona dengannya!” Linda tersenyum melihat Ron.

“Ada apa?”, tanya Ron sedikit berbisik.

Nothing dear”,  jawab Linda sambil tertawa kecil.

“Ya, aku akan percaya saja dengan apa katamu.”

Linda tertawa mendengar jawaban Ron.

“Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti, bye May.” Ia menutup teleponnya.

Akhirnya, mereka berdua berjalan menuju pintu keluar.

Dalam perjalanan itu, dari kejauhan, mata Linda bertemu dengan mata seseorang yang tidak asing baginya. Kedua mata yang masih sama, dengan tatapan yang hangat. Langkah mereka tidak berhenti dan mereka hanya berpapasan. Linda tersenyum kepadanya dan ia juga tersenyum kepada Linda, lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka masing-masing.

“Kau mengenalnya Linda?”, tanya Ron.

“Iya, aku mengenalnya.”, jawab Linda menatap Ron.

“Siapakah dia?”, tanya Ron lagi.

“Teman lamaku”, jawab Linda.

“Siapa namanya?”

Linda tersenyum.

“John Bolton.”

 

-The End-

 

Advertisements

Short-Stories: Erase – Part 4 ‘Regret’

John’s POV

No, just don’t. Don’t touch me. Go away.”

Kata-kata itu. Bagai busur panah yang menusuk sasaran, rasa yang sama aku rasakan. Jika dipikirkan, memang itu salahku. Aku yang memutuskan untuk mengakhiri semua ini begitu saja tanpa memikirkan apa yang ia rasakan. Namun, kenapa ia masih marah? Sudah berbulan-bulan, ia masih tidak ingin menerima maafku.

Ia tidak mau melihatku sama sekali ketika aku memanggil namanya. Seolah-olah, aku memberikannya pandangan yang tidak enak dilihat. Aku merasa sebal jika aku boleh berkata jujur, tetapi rasa sebal ini dikalahkan oleh rasa sakit yang kurasa.

Benar, aku masih mencintainya.

Melupakan seseorang yang begitu berarti, walau bulan berganti bulan, tetap sulit untuk dilupakan. Kenangan bersamanya, kebiasaan yang kita lakukan bersama, tanpa ku sadari tetap aku lakukan setiap harinya. Bahkan, aku tertawa ketika mengingat kenangan yang lucu bersamanya.

Namun, sekarang semua berubah.

Seseorang yang selalu menanti kedatanganku sekarang menanti kepergianku. Ia memilih untuk menjaga jarak, untuk tidak bertemu yang bahkan merelakan waktu kuliahnya. Tak terpikir olehku, betapa besar pengaruh yang aku berikan kepadanya. Keputusanku yang salah.

Perpisahan yang tidak diinginkan oleh dirinya dan diriku sendiri. Perpisahan yang aku sesalkan. Sekarang, terlambat untuk disesalkan, semua sudah berakhir.

Rasa senang yang ku rasakan awalnya ketika aku bertemu dengannya lagi, tetapi ia tidak ingin bertemu denganku lagi. Akhirnya, aku pulang ke rumah setelah apa yang baru saja terjadi.

“Darimana sajakah kau John? Kenapa kau lama sekali?”, ibuku bertanya. “Kenapa muka mu murung begitu?”, lanjutnya.

“Aku baru selesai berlari seperti biasa ibu. Hari ini aku berlari terlalu banyak dan aku lelah.”, jawabku.

“Benarkah? Katakanlah sejujurnya. Kau bertemu dengan Linda bukan?”, tanya ibuku.

“Jika kau sudah tahu ibu, mengapa kau masih menanyakannya kepadaku?”

Benar, aku sudah tidak terkejut dengan bagaimana ibuku dapat mengetahuinya. Semenjak ia mengetahui hubunganku dengan Linda, ia mengirimkan banyak mata-mata. Ia menyelidiki semua latar belakang keluarga Linda.

Ia tidak setuju dengan hubunganku dengan Linda. Berkali-kali, ia selalu memintaku untuk mengakhiri hubungan kami. Aku menolaknya dengan perlahan sampai pada akhirnya karena ia terlalu memaksa, aku muak dan menolaknya dengan tegas.

 

***

 

Flashback

“Kau berani sekarang John? Hanya karena wanita yang tidak tahu malu itu! Akan ku beri pelajaran kepadamu!”

“Silahkan ibu! Aku tidak keberatan tetapi jangan pernah mengungkit masalah ini. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mengakhiri hubunganku dengan Linda Lee!” Aku beranjak dari kursi meja makan dan mulai berjalan keluar ruangan itu.

“Kita lihat nanti. Kau mau tidak mau akan mengakhirinya dan menerima perjodohanmu dengan Jane!”, jawab ibuku.

Jane Billy, wanita yang dijodohkan denganku. Anak seorang designer kelas atas  yang adalah juniorku dan Linda di kampus. Ibu bersikeras untuk menjodohkannya denganku. Ibu menginginkan aku bertunangan dengannya semua karena bisnisnya. Ia terlalu disibukkan oleh pekerjaannya yang bahkan lebih penting dari keluarga.

Aku tidak ingin cintaku berakhir karena semua ini. Terluka karena harus meninggalkan yang dicintai.

Keesokan harinya, aku bertemu dengan Linda di lobby kampus, tempat biasa kami bertemu tiap pagi. Setelah melihat sosoknya, aku mendekat dan memeluknya dengan erat. Namun, ia terlihat murung hari itu.

What’s wrong dear? Is everything okay?”

Yeah, just some unexpected news.”

“Ada apa?” Linda hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Sebaiknya kita pergi ke café kampus untuk membicarakannya.” Aku langsung mengenggamkan tangannya dan berjalan menuju café.

Sesampai di café, kami duduk, memesan kopi dan akhirnya memulai pembicaraan.

So, tell me about it.”

Aku rasa ini bukan hal yang ingin aku ceritakan John”, jawabnya. “Ada apa?”, tanyaku lagi. “Beasiswaku akan ditarik. Mereka berkata performaku di kampus menurun dan aku tidak memenuhi kriteria untuk mendapatkan beasiswa itu lagi.”

“Kita lihat nanti. Kau mau tidak mau akan mengakhirinya dan menerima perjodohanmu dengan Jane!”

Apa ini yang ibu maksud? Mengapa? Mengapa bukan aku yang mendapat pelajaran tetapi Linda?

“Padahal, setelah ku pikir-pikir, nilai ku tidak banyak menurun dan aku selalu aktif dalam aktivitas club bahkan di kampus.”

Semua tidak ada hubungannya dengan Linda.

“Aneh sekali. Benar bukan John?”

Ibu, kau tidak tahu betapa berusahanya Linda untuk menggapai cita-citanya.

“John?”

Ia akan menyelesaikan kuliahnya tidak lama lagi. Kau berusaha untuk menghancurkannya sekarang.

“John? Dear?”

“Oh, ya dear, sorry, kenapa mereka berkata seperti itu? Semua itu tidak benar.”

“Apa ada yang menganggu pikiranmu?” Linda menatapku dengan perhatian. Ia punya masalahnya sendiri namun ia tetap peduli kepada yang lain.

“Tidak dear, apa yang ingin kau katakan sebelumnya?”

“Aku rasa nilaiku yang menurun sedikit itu memengaruhi semuanya, mungkin aku harus fokus belajar sekarang.” Linda beranjak dari kursi. “Aku pergi dulu.”

Wait! Bagaimana dengan kopinya?”

“Kau minum saja ya. Aku rasa, aku harus belajar lebih lagi. Mungkin saja aku bisa mendapatkan nilai yang lebih baik lagi”, jawab Linda dengan senyum tanpa semangat.

Aku menahannya.  “Are you sure? Minumlah kopi bersamaku dulu.”

Well, sorry dear, aku rasa aku tidak bisa. Aku pergi dulu ya.”  Ia berjalan meninggalkan café.

Aku langsung menelepon ibu. “Inikah pelajaran yang ibu maksud? Apa-apaan ini? Ibu tidak tahu betapa susahnya ia mendapat beasiswa itu? Kenapa kau bertindak semaumu?”

“Seharusnya, kau menanggapi apa yang aku katakan itu dengan lebih serius dan bijaksana. Sekarang, aku serahkan semuanya denganmu.” Ia menutup telepon.

Aku bingung dan gegabah pada waktu itu. Aku tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan. Setelah beberapa minggu, Linda terlihat lebih ceria dan tetap optimis untuk mendapatkan beasiswa kembali.  Aku juga sudah berpikir dan memutuskan untuk mengakhiri semua ini. Semua untuk kebaikan Linda. Jika karena hubunganku dan Linda, mimpinya terhambat, lebih baik aku meninggalkannya.

Malam itu, aku datang ke apartemennya dengan membawa sebuah teddy bear dan satu buket bunga lily kesukaannya. Pada malam itu juga, aku mengucapkan salam perpisahan kepadanya.

 

Back to present time

Linda sampai ke apartemennya dengan mata yang sembab. Ia membuka pintu apartemen dan langsung menuju ke kamarnya. Ia lalu berbaring dan mengingat kembali apa yang terjadi hari ini. Semuanya baik-baik saja tetapi hancur karena pertemuan dengan John.

Well, ia memang tidak ingin bertemu lagi dengan John. Namun, ia menyesal. Menyesal dengan tindakan yang ia ambil. Menyesal dengan apa yang ia katakan kepada John. Semua yang ia sudah lakukan ia harap tidak pernah ia lakukan.

Harapan untuk kembali bersama masih ada tetapi entah mengapa tidak bisa ia ungkapkan.

Ada yang berkata, “Penyesalan datang terakhir kali”

 Itulah yang dirasakan oleh seorang Linda Lee.

“Ah, sudahlah, semua sudah berlalu. Untuk apa aku sesali sekarang? Lagipula, sudah beberapa bulan ini aku terbiasa dengan semuanya.” Linda memejamkan matanya. “Benar, Linda Lee, mulailah lembaran yang baru dan hapuskan yang lama!”

Linda mulai membereskan barang-barang yang ia dapat dari John. Lalu, ia mengambil sebuah kotak besar untuk menaruh semua barang itu di dalamnya. Ia menyusun barang-barang itu satu per satu dan dengan rapi. Setelah semua barang dimasukkan, ia mengambil tutup kotak untuk menutupnya. Namun, ada satu barang yang belum ia masukkkan.

Sebuah bunga mawar yang sudah kering. Bunga mawar yang diberikan John pada saat ia menyatakan perasaan kepada Linda. Kenangan di hari itu datang kembali.

Linda ingat, pada waktu itu, ada pesta dansa di kampus. John mengajaknya untuk pergi bersama. Linda bersiap-siap lalu pergi bersama John. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman mereka di pesta dansa itu. Tak terasa, waktu sudah malam.

“Aku akan mengantarmu pulang.” John tersenyum kepada Linda. “Baiklah, aku juga ingin beristirahat karena aku akan bertemu dengan tugas-tugas itu besok”, jawab Linda tertawa kecil.

Di tengah-tengah perjalanan, John menghentikan mobilnya. Mereka berhenti di dekat Everlasting Park. Lalu, ia mengajak Linda keluar dan menariknya berjalan ke taman itu. Linda yang kebingungan lalu bertanya, “Apa yang ingin kau lakukan John?”

John berhenti. Ia berbalik badan dan mengeluarkan bunga mawar dari jasnya. Ia berlutut lalu menatap Linda. “Linda Lee, aku menyukaimu! Kau selalu ada di pikiranku dan.. dan..” Linda tertawa geli. “Dan?”

“Maukah menjadi kekasihku?” Linda terkejut dan akhirnya tersenyum.

“Maaf John, aku rasa..” John tertunduk. “Ya, aku tahu memang aku tidak..” Linda mengambil bunga itu dari tangan John. “Aku rasa aku tidak akan menolakmu.” John mengangkat kepalanya. “Apa? Apakah itu berarti ya?” Linda mengangguk dan tersenyum.

Yes! Finally!”, John memeluk Linda dengan erat.

Linda tersenyum mengingat hari itu. Kini, bunga mawar itu hanyalah kenangan. Ia mengambilnya dan menaruhnya ke dalam kotak. Lalu, ia menutup kotak itu dan membawanya ke gudang. Sekarang, ia sudah siap memulai hari yang baru.

Goodbye John Bolton! You’re  just a memory!

 

to be continued-

Short-Stories: Erase – Part 3 ‘Hope’

Setelah beberapa saat, Linda beranjak dari bangku itu dan memutuskan untuk pulang. Namun sebelum pulang, ia berjalan mengelilingi taman itu. “Baiklah, ini adalah kali terakhir aku datang ke taman ini. Benar-benar untuk terakhir kalinya”, gumamnya.

Saat berjalan, siapa sangka, orang yang paling tidak ingin ia temui berjalan dari arah yang berlawanan dengannya. Wajah yang tidak ingin ia lihat lagi. Benar, orang itu John Bolton. John terlihat masih dengan style berpakaian yang sama. Walau hanya dengan T-shirt, celana training dan sepatu olahraga, ia tetap terlihat cool bagi para wanita.

Di tengah sinar lampu taman, kedua mata mereka bertemu. John terlihat terkejut dan tidak menyangka dapat bertemu dengan Linda. Begitu juga Linda, ia tidak menyangka jika John masih berjalan di taman ini. Tidak terlintas di pikirannya akan bertemu dengan seorang John Bolton di saat-saat seperti ini. Terlepas dari pertemuan yang tiba-tiba ini, ia segera membalikkan tubuhnya dan berjalan bergegas menuju pintu keluar taman.  Namun, ia kalah cepat dengan John. John menarik lengannya dan menahannya sehingga ia tidak bisa pergi kemana-mana.

“Mengapa kau harus pergi ketika kau melihatku?”, tanya John. “Apakah pertanyaan itu harus ku jawab? Aku rasa tidak”, jawab Linda.

“Lepaskan aku”, lanjut Linda. “Tidak, tidak akan ku lepaskan”, John menatap Linda. “Oh, come on, aku sedang tidak ingin bercanda, lepaskan“, Linda berusaha menarik lengannya dari genggaman John. John tidak melepasnya, ia mengenggamnya lebih erat dari sebelumnya.

Apa yang sebenarnya kau inginkan?”, tanya Linda. “Lihatlah lawan bicaramu saat kau berbicara dengannya.”, jawab John dengan tegas.

Lihatlah lawan bicaramu

Bertemu John tanpa disengaja saja sudah cukup membuatnya sedih. Lalu melihat wajahnya? Mungkin, air mata akan menari ria di wajahnya. Namun saat ini, ia merasa kesal dengan situasi ini. Ia sama sekali tidak berharap untuk bertemu dengan John.

Linda melihat wajah John. Melihat wajah pria yang tidak ingin dilihatnya lagi. John melepaskan genggamannya. “Good, much better”, John tersenyum.

Wow, great, dia masih bisa tersenyum setelah apa yang terjadi. Seolah apa yang terjadi itu adalah hal yang biasa”, gumamnya dalam hati.

“Apa yang kau inginkan?”, tanya Linda. “Dimana saja kau selama ini? Apa yang kau lakukan selama ini? Aku tidak pernah melihatmu lagi di kampus”, tanya John.

Pertanyaan yang terdengar semacam lelucon bagi Linda. Apakah itu menunjukkan perhatian John kepadanya atau apapun itu, ia tidak peduli. Bagi Linda, itu adalah pertanyaan yang tidak masuk akal baginya setelah apa yang John lakukan kepadanya.

“Apa hubungannya denganmu? Kau tidak perlu tahu dimana aku berada atau apa yang aku lakukan”, jawab Linda. John terdiam. Benar, hubungan mereka sekarang sudah berbeda.

“Ya, banyak dosen yang menanyakanku dimana kau selama ini. Mereka sudah lama tidak melihatmu di kelas mereka. Begitu juga denganku, beberapa bulan ini aku tidak pernah melihatmu di kampus”. “Lalu, apa pedulimu? Kau tidak perlu melihatku lagi”, jawab Linda. John menghela napas,  “Kembalilah ke kampus. Teman-temanmu sudah merindukanmu. Apakah kau akan mengabaikan kuliahmu?”

“Kau tahu, pergi ke kampus sama saja dengan bertemu denganmu. Bertemu denganmu dengan harapan membuat kenangan yang baru. Dan, aku tahu, tidak akan ada kenangan yang baru lagi bersama denganmu. Janji yang pernah kita buat bersama-sama, harapan agar kau selalu ada bersama denganku, aku sangat ingin menghapusnya dari pikiranku. You know, I hope too much. And because of it, I’m hurt”

John menatap Linda. Kata-kata yang dikeluarkan Linda diikuti oleh air mata yang membasahi wajahnya. John menggerakkan tangannya untuk mengusap air mata di wajah Linda, namun Linda menepis tangannya. Ia terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang Linda lakukan.

No, just don’t. Don’t touch me. Go away.”

John terdiam mendengar dengan perkataan Linda. Kata-kata yang ia tidak sangka akan keluar dari mulut Linda. Kedua matanya memancarkan betapa sakitnya ia mendengarkan kata-kata itu. Memang, ia yang memulai semua ini. Ia bingung apa yang harus ia katakan.

I’m sorry”, John menatap Linda.

Sorry?”, tanya Linda.

“Kata itu tidak cukup untuk menghilangkan apa yang aku rasakan karenamu”, Linda mengusap air matanya.

“Sudahlah, aku ingin pulang. Lebih baik, kita tidak usah bertemu lagi”, lanjutnya. “Tapi….”, John belum menyelesaikan kalimatnya. “Ini untuk kebaikan kita berdua…  tidak, ini untuk kebaikan ku. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku”, jawab Linda lalu berjalan meninggalkannya.

“Linda”, panggil John. Linda tidak menoleh, ia terus berjalan. “Linda Lee!” Linda terus berjalan menuju  pintu keluar taman. Air mata terus mengalir di wajahnya. “LINDA!” Ia tidak menghiraukan John. Ia tidak berharap John akan mengejarnya. Harapan bersama John sudah hilang.

Keluar dari taman itu, ia bergegas berjalan ke pinggir trotoar dan memanggil taxi.  Ia naik ke dalam taxi dan memberitahukan supir taxi  alamat apartemennya.

Lalu, ia  menangis di dalam diamnya. Ia menyesali apa yang ia katakan pada John. Tidak ingin bertemu lagi? Tidak, ia masih ingin bertemu. Tidak berharap? Sebenarnya ia ingin John mengejarnya. Mengejar dan memintanya untuk bertahan. Tetapi, semua itu sudah berlalu. Ia tidak ingin mengingat apa yang terjadi hari ini. Ia ingin menghapus semuanya.

 

***

You asked me, ‘Do you know what is love?’

I don’t know until you told me

You showed me

Love is you

Your smile, your hugs, your eyes, your voices

And everything about you

Then, you go away

Leaving me with false hope

Hoping you will stay but you don`t

 

-to be continued-

NB:

Part 4 akan dirilis sekitar 2 minggu lagi karena writer ada event! Happy reading and Enjoy!

-hanniehan

Short-Stories: Erase – Part 2 ‘Lost’

Langit sudah gelap sepenuhnya. Gelap namun ditemani oleh sinar bulan dan bintang. Linda masih berjalan menyusuri jalan trotoar. Kedua matanya yang memerah tidak begitu terlihat dibawah sinar malam itu. Jalan raya pun sudah dipenuhi kendaraan orang-orang yang baru pulang kerja.

Lalu, ia mulai merasa lapar. Ia mampir ke sebuah mini-market. Mengambil beberapa snack yang biasa ia beli. Saat mengambil, ia mulai teringat akan satu hal. Semua snack yang diambilnya itu adalah snack yang suka ia makan bersama-sama dengan John. Ia mulai mengembalikannya satu persatu ke tempatnya masing-masing. Rasa laparnya serasa hilang begitu saja. Ia keluar dari tempat itu.

Sulit memang, semua benda atau apapun itu, kecil atau besar, makanan atau minuman, pasti akan membuatnya ingat pada pria itu. “Terlalu banyak memang, kenangan bersamamu terlalu banyak John”, gumamnya. Linda berjalan dan terus berjalan tanpa tujuan. Akhirnya, ia sampai di sebuah taman.

Everlasting Park”. Taman yang sebenarnya tidak ingin ia kunjungi lagi. Banyak sekali waktu yang John dan ia habiskan di taman itu. Lalu, Linda duduk di bangku yang menjadi tempat favorit mereka di taman itu.

Everlasting Park! Like our love dear, everlasting love.”

Suara John pada hari itu masih terdengar sangat jelas di telinganya. Seakan, John berada tepat di sisinya dan baru saja mengatakannya.

Yes dear, like our love, I love you so much.”

Linda mengucapkan kembali jawaban yang ia katakan pada John pada hari itu sambil memejamkan matanya. Kenangan mereka pada hari itu juga masih tergambar jelas di ingatannya.

 

***

Flashback

Hari itu, John sedang bercerita kepada Linda tentang seorang cashier di café yang membuatnya jengkel pada hari itu.

“Orang itu memberikan pelayanan yang sangat tidak baik. Ia melayani semua pembeli dengan tatapan kosong dan dengan nada seperti orang yang tidak memiliki semangat sama sekali”, ceritanya dengan wajah yang sebal. “Dan memang benar, bukan hanya aku saja yang merasakannya, orang lain juga setuju dengan pendapatku. You know, I can do it better than him.” Linda hanya mengangguk-ngangguk dan menahan tawa melihat kekasihnya itu.

Kebiasaan John yang tidak pernah hilang. Ia paling tidak suka dengan pelayanan yang tidak baik. Ketika ia tidak puas, ia akan menceritakannya berulang-ulang sampai akhirnya ia berhenti dengan sendirinya. Namun, bagi Linda, saat-saat itulah yang paling ia suka karena John terlihat menggemaskan ketika ia sedang sebal.

“Apa ada yang lucu?”, John bertanya dengan serius. “Tidak. Tidak ada sama sekali”, jawab Linda dengan tersenyum. “Kau pasti menertawakanku”, John memandang Linda dengan tatapan sebal. “Tidak dear, untuk apa menertawakanmu”, kata Linda.

Mereka terdiam sebentar sampai akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh tawa Linda. Suara tawa yang cukup besar untuk seorang wanita mungil. “Dear, you’re really funny”, Linda mencubit pipi John. John menarik Linda mendekat dengannya lalu memeluknya. Linda sedikit terkejut namun ia langsung membalas pelukan John. Ia memeluk John dengan sangat erat.

Suasana menjadi hening. Keramaian di jalan raya dekat taman juga sudah mulai sepi. Saat yang tenang untuk merenungkan apa saja yang sudah dilewati pada hari itu.

Linda dapat merasakan apa yang John rasakan. Terkadang tanpa kata-kata, mereka bisa merasakan apa yang dirasakan masing-masing.

I’m so glad to have you in my life”

“Me too”

Kata-kata yang biasa namun berarti bagi mereka. Kata yang menunjukkan betapa besarnya cinta mereka satu sama lain.

 

 

Namun semua itu hanya kenangan.

Kenangan yang memilukan hati dan sulit dihapus dari ingatan.

 

 

-to be continued-

Short-Stories: Erase – Part 1 ‘Unexpected’

Bayangan matahari mulai menghilang dari pandangan. Disaat yang sama, seorang wanita memandangi langit yang mulai gelap dengan tatapan kosong. Linda Lee, seorang mahasiswi jurusan fashion design di London College of Fashion. Kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam pikiran dan membuatnya memenjamkan mata sejenak.

“Setidaknya aku bisa menenangkan pikiranku”, gumamnya. Namun, itu tidak membantunya sama sekali. Ketika memejamkan matanya, hanya wajah orang itu yang ada di pikirannya. Seolah-olah, orang itu ada di hadapannya. Rasa sakit itu datang lagi kepadanya. Tanpa disadari, air mata sudah membasahi wajahnya.

***

John Bolton, pria yang sangat ia cintai. Pria yang sudah membuat banyak kenangan bersamanya. John adalah seniornya di universitas dan mereka adalah pasangan yang populer di kalangan junior mereka. Ketika Linda ada di library, John ada di situ. Ketika Linda ada di cafeteria, disitu juga ada John. Kemanapun, mereka selalu bersama-sama. Pergi dan pulang kuliah berdua seperti tidak ada yang bisa memisahkan mereka.

“Linda, ada yang ingin ku bicarakan”, kata John dalam telepon. “Apa itu?”, jawab Linda. “Jadi..”, sebelum John menyelesaikan kalimatnya, “Apakah itu tentang seberapa besar cintamu padaku?”, kata Linda. “Bukan dear, memang aku sangat mencintaimu tapi ada hal lain yang ingin ku bicarakan”, jawab John. “Bolehkan aku datang ke rumah?”, lanjutnya. “Tentu boleh dear, aku akan menunggumu dan membuatkanmu kopi. Cepat datang sebelum kopinya dingin”, jawab Linda. “Yes dear, I’ll come right away”, jawab John dan ia menutup teleponnya.

Ding dong

Suara bel pintu berbunyi. “Sebentar!”, kata Linda. Ia baru saja membereskan apartemen kecilnya itu. Tugas design ada dimana-mana dan ia belum sempat membereskannya. Tapi karena John akan datang, ia membereskannya secepat kilat. Walau sebenarnya, belum terlalu beres. “Tapi sudahlah, yang penting sudah sedikit rapi”, pikirnya.

Linda berjalan mendekat ke pintu apartemennya. Dan ketika ia membuka pintu, pria yang dicintainya tidak sendiri. Ia ditemani dengan sebuah teddy bear dan satu buket bunga lily kesukaannya. “Hey dear, for you”, kata John sambil memberikannya kepada Linda. “Okay, I’m speechless. Thanks dear!”, jawab Linda dan langsung memeluk John. “Come on, kopinya masih hangat”, lanjut Linda.

“Silahkan, Kopi Expresso pesanan anda Pak. Selamat menikmati.” Linda menaruh kopi di meja dan bertingkah seolah ia seorang pelayan di café. John hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum. Wajar baginya melihat tingkah kekasihnya itu. Linda duduk berhadapan dengan John. Lalu,  John meminum kopi itu dan sambil tersenyum ia berkata, “Hangat dan enak seperti biasanya.”

“Tentu saja, siapa lagi yang bisa membuatkan kopi seenak yang kubuat? Aku rasa tidak ada.”, gumam Linda dengan senyum puas dan bangga. John tertawa dan berkata, “Ya, baiklah, hanya Linda Lee yang bisa membuatkan kopi yang sangat enak di dunia ini!” Mereka tertawa bersama, tawa mereka memenuhi ruangan itu.

Okay, jadi apa yang ingin kau bicarakan?”, tanya Linda. Wajah John berubah menjadi muram. “Ada apa dear?”, lanjut Linda. John berdiri dan menghampiri Linda. Ia menarik Linda dari kursi secara perlahan dan membuat Linda berdiri berhadapan dengan dirinya. Ia memandangi wajah Linda lalu memeluknya dengan erat. Linda bingung namun ia membalas pelukan John. Mereka berpelukan tanpa berbicara apa-apa. Lalu, ia mencium kening Linda. “Dear, ada apa?”, tanya Linda lagi.

John melepaskan pelukannya dan hanya tersenyum kepada Linda. Ia tersenyum tetapi kedua matanya tidak. Matanya menunjukkan kesedihan yang dalam. Seolah, air mata akan keluar tanpa hitungan detik. John kembali ke kursinya dan menghela nafas.

“Berakhir.” Linda memandangi John dengan tatapan bingung. “Apa maksudmu?”, jawab Linda.

“Berakhir. Kau dan aku, kita, berakhir.”

 

 

to be continued