John’s POV

No, just don’t. Don’t touch me. Go away.”

Kata-kata itu. Bagai busur panah yang menusuk sasaran, rasa yang sama aku rasakan. Jika dipikirkan, memang itu salahku. Aku yang memutuskan untuk mengakhiri semua ini begitu saja tanpa memikirkan apa yang ia rasakan. Namun, kenapa ia masih marah? Sudah berbulan-bulan, ia masih tidak ingin menerima maafku.

Ia tidak mau melihatku sama sekali ketika aku memanggil namanya. Seolah-olah, aku memberikannya pandangan yang tidak enak dilihat. Aku merasa sebal jika aku boleh berkata jujur, tetapi rasa sebal ini dikalahkan oleh rasa sakit yang kurasa.

Benar, aku masih mencintainya.

Melupakan seseorang yang begitu berarti, walau bulan berganti bulan, tetap sulit untuk dilupakan. Kenangan bersamanya, kebiasaan yang kita lakukan bersama, tanpa ku sadari tetap aku lakukan setiap harinya. Bahkan, aku tertawa ketika mengingat kenangan yang lucu bersamanya.

Namun, sekarang semua berubah.

Seseorang yang selalu menanti kedatanganku sekarang menanti kepergianku. Ia memilih untuk menjaga jarak, untuk tidak bertemu yang bahkan merelakan waktu kuliahnya. Tak terpikir olehku, betapa besar pengaruh yang aku berikan kepadanya. Keputusanku yang salah.

Perpisahan yang tidak diinginkan oleh dirinya dan diriku sendiri. Perpisahan yang aku sesalkan. Sekarang, terlambat untuk disesalkan, semua sudah berakhir.

Rasa senang yang ku rasakan awalnya ketika aku bertemu dengannya lagi, tetapi ia tidak ingin bertemu denganku lagi. Akhirnya, aku pulang ke rumah setelah apa yang baru saja terjadi.

“Darimana sajakah kau John? Kenapa kau lama sekali?”, ibuku bertanya. “Kenapa muka mu murung begitu?”, lanjutnya.

“Aku baru selesai berlari seperti biasa ibu. Hari ini aku berlari terlalu banyak dan aku lelah.”, jawabku.

“Benarkah? Katakanlah sejujurnya. Kau bertemu dengan Linda bukan?”, tanya ibuku.

“Jika kau sudah tahu ibu, mengapa kau masih menanyakannya kepadaku?”

Benar, aku sudah tidak terkejut dengan bagaimana ibuku dapat mengetahuinya. Semenjak ia mengetahui hubunganku dengan Linda, ia mengirimkan banyak mata-mata. Ia menyelidiki semua latar belakang keluarga Linda.

Ia tidak setuju dengan hubunganku dengan Linda. Berkali-kali, ia selalu memintaku untuk mengakhiri hubungan kami. Aku menolaknya dengan perlahan sampai pada akhirnya karena ia terlalu memaksa, aku muak dan menolaknya dengan tegas.

 

***

 

Flashback

“Kau berani sekarang John? Hanya karena wanita yang tidak tahu malu itu! Akan ku beri pelajaran kepadamu!”

“Silahkan ibu! Aku tidak keberatan tetapi jangan pernah mengungkit masalah ini. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mengakhiri hubunganku dengan Linda Lee!” Aku beranjak dari kursi meja makan dan mulai berjalan keluar ruangan itu.

“Kita lihat nanti. Kau mau tidak mau akan mengakhirinya dan menerima perjodohanmu dengan Jane!”, jawab ibuku.

Jane Billy, wanita yang dijodohkan denganku. Anak seorang designer kelas atas  yang adalah juniorku dan Linda di kampus. Ibu bersikeras untuk menjodohkannya denganku. Ibu menginginkan aku bertunangan dengannya semua karena bisnisnya. Ia terlalu disibukkan oleh pekerjaannya yang bahkan lebih penting dari keluarga.

Aku tidak ingin cintaku berakhir karena semua ini. Terluka karena harus meninggalkan yang dicintai.

Keesokan harinya, aku bertemu dengan Linda di lobby kampus, tempat biasa kami bertemu tiap pagi. Setelah melihat sosoknya, aku mendekat dan memeluknya dengan erat. Namun, ia terlihat murung hari itu.

What’s wrong dear? Is everything okay?”

Yeah, just some unexpected news.”

“Ada apa?” Linda hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Sebaiknya kita pergi ke café kampus untuk membicarakannya.” Aku langsung mengenggamkan tangannya dan berjalan menuju café.

Sesampai di café, kami duduk, memesan kopi dan akhirnya memulai pembicaraan.

So, tell me about it.”

Aku rasa ini bukan hal yang ingin aku ceritakan John”, jawabnya. “Ada apa?”, tanyaku lagi. “Beasiswaku akan ditarik. Mereka berkata performaku di kampus menurun dan aku tidak memenuhi kriteria untuk mendapatkan beasiswa itu lagi.”

“Kita lihat nanti. Kau mau tidak mau akan mengakhirinya dan menerima perjodohanmu dengan Jane!”

Apa ini yang ibu maksud? Mengapa? Mengapa bukan aku yang mendapat pelajaran tetapi Linda?

“Padahal, setelah ku pikir-pikir, nilai ku tidak banyak menurun dan aku selalu aktif dalam aktivitas club bahkan di kampus.”

Semua tidak ada hubungannya dengan Linda.

“Aneh sekali. Benar bukan John?”

Ibu, kau tidak tahu betapa berusahanya Linda untuk menggapai cita-citanya.

“John?”

Ia akan menyelesaikan kuliahnya tidak lama lagi. Kau berusaha untuk menghancurkannya sekarang.

“John? Dear?”

“Oh, ya dear, sorry, kenapa mereka berkata seperti itu? Semua itu tidak benar.”

“Apa ada yang menganggu pikiranmu?” Linda menatapku dengan perhatian. Ia punya masalahnya sendiri namun ia tetap peduli kepada yang lain.

“Tidak dear, apa yang ingin kau katakan sebelumnya?”

“Aku rasa nilaiku yang menurun sedikit itu memengaruhi semuanya, mungkin aku harus fokus belajar sekarang.” Linda beranjak dari kursi. “Aku pergi dulu.”

Wait! Bagaimana dengan kopinya?”

“Kau minum saja ya. Aku rasa, aku harus belajar lebih lagi. Mungkin saja aku bisa mendapatkan nilai yang lebih baik lagi”, jawab Linda dengan senyum tanpa semangat.

Aku menahannya.  “Are you sure? Minumlah kopi bersamaku dulu.”

Well, sorry dear, aku rasa aku tidak bisa. Aku pergi dulu ya.”  Ia berjalan meninggalkan café.

Aku langsung menelepon ibu. “Inikah pelajaran yang ibu maksud? Apa-apaan ini? Ibu tidak tahu betapa susahnya ia mendapat beasiswa itu? Kenapa kau bertindak semaumu?”

“Seharusnya, kau menanggapi apa yang aku katakan itu dengan lebih serius dan bijaksana. Sekarang, aku serahkan semuanya denganmu.” Ia menutup telepon.

Aku bingung dan gegabah pada waktu itu. Aku tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan. Setelah beberapa minggu, Linda terlihat lebih ceria dan tetap optimis untuk mendapatkan beasiswa kembali.  Aku juga sudah berpikir dan memutuskan untuk mengakhiri semua ini. Semua untuk kebaikan Linda. Jika karena hubunganku dan Linda, mimpinya terhambat, lebih baik aku meninggalkannya.

Malam itu, aku datang ke apartemennya dengan membawa sebuah teddy bear dan satu buket bunga lily kesukaannya. Pada malam itu juga, aku mengucapkan salam perpisahan kepadanya.

 

Back to present time

Linda sampai ke apartemennya dengan mata yang sembab. Ia membuka pintu apartemen dan langsung menuju ke kamarnya. Ia lalu berbaring dan mengingat kembali apa yang terjadi hari ini. Semuanya baik-baik saja tetapi hancur karena pertemuan dengan John.

Well, ia memang tidak ingin bertemu lagi dengan John. Namun, ia menyesal. Menyesal dengan tindakan yang ia ambil. Menyesal dengan apa yang ia katakan kepada John. Semua yang ia sudah lakukan ia harap tidak pernah ia lakukan.

Harapan untuk kembali bersama masih ada tetapi entah mengapa tidak bisa ia ungkapkan.

Ada yang berkata, “Penyesalan datang terakhir kali”

 Itulah yang dirasakan oleh seorang Linda Lee.

“Ah, sudahlah, semua sudah berlalu. Untuk apa aku sesali sekarang? Lagipula, sudah beberapa bulan ini aku terbiasa dengan semuanya.” Linda memejamkan matanya. “Benar, Linda Lee, mulailah lembaran yang baru dan hapuskan yang lama!”

Linda mulai membereskan barang-barang yang ia dapat dari John. Lalu, ia mengambil sebuah kotak besar untuk menaruh semua barang itu di dalamnya. Ia menyusun barang-barang itu satu per satu dan dengan rapi. Setelah semua barang dimasukkan, ia mengambil tutup kotak untuk menutupnya. Namun, ada satu barang yang belum ia masukkkan.

Sebuah bunga mawar yang sudah kering. Bunga mawar yang diberikan John pada saat ia menyatakan perasaan kepada Linda. Kenangan di hari itu datang kembali.

Linda ingat, pada waktu itu, ada pesta dansa di kampus. John mengajaknya untuk pergi bersama. Linda bersiap-siap lalu pergi bersama John. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman mereka di pesta dansa itu. Tak terasa, waktu sudah malam.

“Aku akan mengantarmu pulang.” John tersenyum kepada Linda. “Baiklah, aku juga ingin beristirahat karena aku akan bertemu dengan tugas-tugas itu besok”, jawab Linda tertawa kecil.

Di tengah-tengah perjalanan, John menghentikan mobilnya. Mereka berhenti di dekat Everlasting Park. Lalu, ia mengajak Linda keluar dan menariknya berjalan ke taman itu. Linda yang kebingungan lalu bertanya, “Apa yang ingin kau lakukan John?”

John berhenti. Ia berbalik badan dan mengeluarkan bunga mawar dari jasnya. Ia berlutut lalu menatap Linda. “Linda Lee, aku menyukaimu! Kau selalu ada di pikiranku dan.. dan..” Linda tertawa geli. “Dan?”

“Maukah menjadi kekasihku?” Linda terkejut dan akhirnya tersenyum.

“Maaf John, aku rasa..” John tertunduk. “Ya, aku tahu memang aku tidak..” Linda mengambil bunga itu dari tangan John. “Aku rasa aku tidak akan menolakmu.” John mengangkat kepalanya. “Apa? Apakah itu berarti ya?” Linda mengangguk dan tersenyum.

Yes! Finally!”, John memeluk Linda dengan erat.

Linda tersenyum mengingat hari itu. Kini, bunga mawar itu hanyalah kenangan. Ia mengambilnya dan menaruhnya ke dalam kotak. Lalu, ia menutup kotak itu dan membawanya ke gudang. Sekarang, ia sudah siap memulai hari yang baru.

Goodbye John Bolton! You’re  just a memory!

 

to be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s