Setelah beberapa saat, Linda beranjak dari bangku itu dan memutuskan untuk pulang. Namun sebelum pulang, ia berjalan mengelilingi taman itu. “Baiklah, ini adalah kali terakhir aku datang ke taman ini. Benar-benar untuk terakhir kalinya”, gumamnya.

Saat berjalan, siapa sangka, orang yang paling tidak ingin ia temui berjalan dari arah yang berlawanan dengannya. Wajah yang tidak ingin ia lihat lagi. Benar, orang itu John Bolton. John terlihat masih dengan style berpakaian yang sama. Walau hanya dengan T-shirt, celana training dan sepatu olahraga, ia tetap terlihat cool bagi para wanita.

Di tengah sinar lampu taman, kedua mata mereka bertemu. John terlihat terkejut dan tidak menyangka dapat bertemu dengan Linda. Begitu juga Linda, ia tidak menyangka jika John masih berjalan di taman ini. Tidak terlintas di pikirannya akan bertemu dengan seorang John Bolton di saat-saat seperti ini. Terlepas dari pertemuan yang tiba-tiba ini, ia segera membalikkan tubuhnya dan berjalan bergegas menuju pintu keluar taman.  Namun, ia kalah cepat dengan John. John menarik lengannya dan menahannya sehingga ia tidak bisa pergi kemana-mana.

“Mengapa kau harus pergi ketika kau melihatku?”, tanya John. “Apakah pertanyaan itu harus ku jawab? Aku rasa tidak”, jawab Linda.

“Lepaskan aku”, lanjut Linda. “Tidak, tidak akan ku lepaskan”, John menatap Linda. “Oh, come on, aku sedang tidak ingin bercanda, lepaskan“, Linda berusaha menarik lengannya dari genggaman John. John tidak melepasnya, ia mengenggamnya lebih erat dari sebelumnya.

Apa yang sebenarnya kau inginkan?”, tanya Linda. “Lihatlah lawan bicaramu saat kau berbicara dengannya.”, jawab John dengan tegas.

Lihatlah lawan bicaramu

Bertemu John tanpa disengaja saja sudah cukup membuatnya sedih. Lalu melihat wajahnya? Mungkin, air mata akan menari ria di wajahnya. Namun saat ini, ia merasa kesal dengan situasi ini. Ia sama sekali tidak berharap untuk bertemu dengan John.

Linda melihat wajah John. Melihat wajah pria yang tidak ingin dilihatnya lagi. John melepaskan genggamannya. “Good, much better”, John tersenyum.

Wow, great, dia masih bisa tersenyum setelah apa yang terjadi. Seolah apa yang terjadi itu adalah hal yang biasa”, gumamnya dalam hati.

“Apa yang kau inginkan?”, tanya Linda. “Dimana saja kau selama ini? Apa yang kau lakukan selama ini? Aku tidak pernah melihatmu lagi di kampus”, tanya John.

Pertanyaan yang terdengar semacam lelucon bagi Linda. Apakah itu menunjukkan perhatian John kepadanya atau apapun itu, ia tidak peduli. Bagi Linda, itu adalah pertanyaan yang tidak masuk akal baginya setelah apa yang John lakukan kepadanya.

“Apa hubungannya denganmu? Kau tidak perlu tahu dimana aku berada atau apa yang aku lakukan”, jawab Linda. John terdiam. Benar, hubungan mereka sekarang sudah berbeda.

“Ya, banyak dosen yang menanyakanku dimana kau selama ini. Mereka sudah lama tidak melihatmu di kelas mereka. Begitu juga denganku, beberapa bulan ini aku tidak pernah melihatmu di kampus”. “Lalu, apa pedulimu? Kau tidak perlu melihatku lagi”, jawab Linda. John menghela napas,  “Kembalilah ke kampus. Teman-temanmu sudah merindukanmu. Apakah kau akan mengabaikan kuliahmu?”

“Kau tahu, pergi ke kampus sama saja dengan bertemu denganmu. Bertemu denganmu dengan harapan membuat kenangan yang baru. Dan, aku tahu, tidak akan ada kenangan yang baru lagi bersama denganmu. Janji yang pernah kita buat bersama-sama, harapan agar kau selalu ada bersama denganku, aku sangat ingin menghapusnya dari pikiranku. You know, I hope too much. And because of it, I’m hurt”

John menatap Linda. Kata-kata yang dikeluarkan Linda diikuti oleh air mata yang membasahi wajahnya. John menggerakkan tangannya untuk mengusap air mata di wajah Linda, namun Linda menepis tangannya. Ia terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang Linda lakukan.

No, just don’t. Don’t touch me. Go away.”

John terdiam mendengar dengan perkataan Linda. Kata-kata yang ia tidak sangka akan keluar dari mulut Linda. Kedua matanya memancarkan betapa sakitnya ia mendengarkan kata-kata itu. Memang, ia yang memulai semua ini. Ia bingung apa yang harus ia katakan.

I’m sorry”, John menatap Linda.

Sorry?”, tanya Linda.

“Kata itu tidak cukup untuk menghilangkan apa yang aku rasakan karenamu”, Linda mengusap air matanya.

“Sudahlah, aku ingin pulang. Lebih baik, kita tidak usah bertemu lagi”, lanjutnya. “Tapi….”, John belum menyelesaikan kalimatnya. “Ini untuk kebaikan kita berdua…  tidak, ini untuk kebaikan ku. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku”, jawab Linda lalu berjalan meninggalkannya.

“Linda”, panggil John. Linda tidak menoleh, ia terus berjalan. “Linda Lee!” Linda terus berjalan menuju  pintu keluar taman. Air mata terus mengalir di wajahnya. “LINDA!” Ia tidak menghiraukan John. Ia tidak berharap John akan mengejarnya. Harapan bersama John sudah hilang.

Keluar dari taman itu, ia bergegas berjalan ke pinggir trotoar dan memanggil taxi.  Ia naik ke dalam taxi dan memberitahukan supir taxi  alamat apartemennya.

Lalu, ia  menangis di dalam diamnya. Ia menyesali apa yang ia katakan pada John. Tidak ingin bertemu lagi? Tidak, ia masih ingin bertemu. Tidak berharap? Sebenarnya ia ingin John mengejarnya. Mengejar dan memintanya untuk bertahan. Tetapi, semua itu sudah berlalu. Ia tidak ingin mengingat apa yang terjadi hari ini. Ia ingin menghapus semuanya.

 

***

You asked me, ‘Do you know what is love?’

I don’t know until you told me

You showed me

Love is you

Your smile, your hugs, your eyes, your voices

And everything about you

Then, you go away

Leaving me with false hope

Hoping you will stay but you don`t

 

-to be continued-

NB:

Part 4 akan dirilis sekitar 2 minggu lagi karena writer ada event! Happy reading and Enjoy!

-hanniehan

Advertisements

3 thoughts on “Short-Stories: Erase – Part 3 ‘Hope’

  1. Kalo di cerita yang biasa aku baca: cewenya ketabrak mobil habis lari. Glad you didn’t make it that way HAHHA
    Ceritanya oke banget, dialog-dialog yang tiap karakter ucapkan itu pas banget, can’t wait to read another short story of yours. Keep writing, Han! 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s