Langit sudah gelap sepenuhnya. Gelap namun ditemani oleh sinar bulan dan bintang. Linda masih berjalan menyusuri jalan trotoar. Kedua matanya yang memerah tidak begitu terlihat dibawah sinar malam itu. Jalan raya pun sudah dipenuhi kendaraan orang-orang yang baru pulang kerja.

Lalu, ia mulai merasa lapar. Ia mampir ke sebuah mini-market. Mengambil beberapa snack yang biasa ia beli. Saat mengambil, ia mulai teringat akan satu hal. Semua snack yang diambilnya itu adalah snack yang suka ia makan bersama-sama dengan John. Ia mulai mengembalikannya satu persatu ke tempatnya masing-masing. Rasa laparnya serasa hilang begitu saja. Ia keluar dari tempat itu.

Sulit memang, semua benda atau apapun itu, kecil atau besar, makanan atau minuman, pasti akan membuatnya ingat pada pria itu. “Terlalu banyak memang, kenangan bersamamu terlalu banyak John”, gumamnya. Linda berjalan dan terus berjalan tanpa tujuan. Akhirnya, ia sampai di sebuah taman.

Everlasting Park”. Taman yang sebenarnya tidak ingin ia kunjungi lagi. Banyak sekali waktu yang John dan ia habiskan di taman itu. Lalu, Linda duduk di bangku yang menjadi tempat favorit mereka di taman itu.

Everlasting Park! Like our love dear, everlasting love.”

Suara John pada hari itu masih terdengar sangat jelas di telinganya. Seakan, John berada tepat di sisinya dan baru saja mengatakannya.

Yes dear, like our love, I love you so much.”

Linda mengucapkan kembali jawaban yang ia katakan pada John pada hari itu sambil memejamkan matanya. Kenangan mereka pada hari itu juga masih tergambar jelas di ingatannya.

 

***

Flashback

Hari itu, John sedang bercerita kepada Linda tentang seorang cashier di café yang membuatnya jengkel pada hari itu.

“Orang itu memberikan pelayanan yang sangat tidak baik. Ia melayani semua pembeli dengan tatapan kosong dan dengan nada seperti orang yang tidak memiliki semangat sama sekali”, ceritanya dengan wajah yang sebal. “Dan memang benar, bukan hanya aku saja yang merasakannya, orang lain juga setuju dengan pendapatku. You know, I can do it better than him.” Linda hanya mengangguk-ngangguk dan menahan tawa melihat kekasihnya itu.

Kebiasaan John yang tidak pernah hilang. Ia paling tidak suka dengan pelayanan yang tidak baik. Ketika ia tidak puas, ia akan menceritakannya berulang-ulang sampai akhirnya ia berhenti dengan sendirinya. Namun, bagi Linda, saat-saat itulah yang paling ia suka karena John terlihat menggemaskan ketika ia sedang sebal.

“Apa ada yang lucu?”, John bertanya dengan serius. “Tidak. Tidak ada sama sekali”, jawab Linda dengan tersenyum. “Kau pasti menertawakanku”, John memandang Linda dengan tatapan sebal. “Tidak dear, untuk apa menertawakanmu”, kata Linda.

Mereka terdiam sebentar sampai akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh tawa Linda. Suara tawa yang cukup besar untuk seorang wanita mungil. “Dear, you’re really funny”, Linda mencubit pipi John. John menarik Linda mendekat dengannya lalu memeluknya. Linda sedikit terkejut namun ia langsung membalas pelukan John. Ia memeluk John dengan sangat erat.

Suasana menjadi hening. Keramaian di jalan raya dekat taman juga sudah mulai sepi. Saat yang tenang untuk merenungkan apa saja yang sudah dilewati pada hari itu.

Linda dapat merasakan apa yang John rasakan. Terkadang tanpa kata-kata, mereka bisa merasakan apa yang dirasakan masing-masing.

I’m so glad to have you in my life”

“Me too”

Kata-kata yang biasa namun berarti bagi mereka. Kata yang menunjukkan betapa besarnya cinta mereka satu sama lain.

 

 

Namun semua itu hanya kenangan.

Kenangan yang memilukan hati dan sulit dihapus dari ingatan.

 

 

-to be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s