Short-Stories: Erase – Part 3 ‘Hope’

Setelah beberapa saat, Linda beranjak dari bangku itu dan memutuskan untuk pulang. Namun sebelum pulang, ia berjalan mengelilingi taman itu. “Baiklah, ini adalah kali terakhir aku datang ke taman ini. Benar-benar untuk terakhir kalinya”, gumamnya.

Saat berjalan, siapa sangka, orang yang paling tidak ingin ia temui berjalan dari arah yang berlawanan dengannya. Wajah yang tidak ingin ia lihat lagi. Benar, orang itu John Bolton. John terlihat masih dengan style berpakaian yang sama. Walau hanya dengan T-shirt, celana training dan sepatu olahraga, ia tetap terlihat cool bagi para wanita.

Di tengah sinar lampu taman, kedua mata mereka bertemu. John terlihat terkejut dan tidak menyangka dapat bertemu dengan Linda. Begitu juga Linda, ia tidak menyangka jika John masih berjalan di taman ini. Tidak terlintas di pikirannya akan bertemu dengan seorang John Bolton di saat-saat seperti ini. Terlepas dari pertemuan yang tiba-tiba ini, ia segera membalikkan tubuhnya dan berjalan bergegas menuju pintu keluar taman.  Namun, ia kalah cepat dengan John. John menarik lengannya dan menahannya sehingga ia tidak bisa pergi kemana-mana.

“Mengapa kau harus pergi ketika kau melihatku?”, tanya John. “Apakah pertanyaan itu harus ku jawab? Aku rasa tidak”, jawab Linda.

“Lepaskan aku”, lanjut Linda. “Tidak, tidak akan ku lepaskan”, John menatap Linda. “Oh, come on, aku sedang tidak ingin bercanda, lepaskan“, Linda berusaha menarik lengannya dari genggaman John. John tidak melepasnya, ia mengenggamnya lebih erat dari sebelumnya.

Apa yang sebenarnya kau inginkan?”, tanya Linda. “Lihatlah lawan bicaramu saat kau berbicara dengannya.”, jawab John dengan tegas.

Lihatlah lawan bicaramu

Bertemu John tanpa disengaja saja sudah cukup membuatnya sedih. Lalu melihat wajahnya? Mungkin, air mata akan menari ria di wajahnya. Namun saat ini, ia merasa kesal dengan situasi ini. Ia sama sekali tidak berharap untuk bertemu dengan John.

Linda melihat wajah John. Melihat wajah pria yang tidak ingin dilihatnya lagi. John melepaskan genggamannya. “Good, much better”, John tersenyum.

Wow, great, dia masih bisa tersenyum setelah apa yang terjadi. Seolah apa yang terjadi itu adalah hal yang biasa”, gumamnya dalam hati.

“Apa yang kau inginkan?”, tanya Linda. “Dimana saja kau selama ini? Apa yang kau lakukan selama ini? Aku tidak pernah melihatmu lagi di kampus”, tanya John.

Pertanyaan yang terdengar semacam lelucon bagi Linda. Apakah itu menunjukkan perhatian John kepadanya atau apapun itu, ia tidak peduli. Bagi Linda, itu adalah pertanyaan yang tidak masuk akal baginya setelah apa yang John lakukan kepadanya.

“Apa hubungannya denganmu? Kau tidak perlu tahu dimana aku berada atau apa yang aku lakukan”, jawab Linda. John terdiam. Benar, hubungan mereka sekarang sudah berbeda.

“Ya, banyak dosen yang menanyakanku dimana kau selama ini. Mereka sudah lama tidak melihatmu di kelas mereka. Begitu juga denganku, beberapa bulan ini aku tidak pernah melihatmu di kampus”. “Lalu, apa pedulimu? Kau tidak perlu melihatku lagi”, jawab Linda. John menghela napas,  “Kembalilah ke kampus. Teman-temanmu sudah merindukanmu. Apakah kau akan mengabaikan kuliahmu?”

“Kau tahu, pergi ke kampus sama saja dengan bertemu denganmu. Bertemu denganmu dengan harapan membuat kenangan yang baru. Dan, aku tahu, tidak akan ada kenangan yang baru lagi bersama denganmu. Janji yang pernah kita buat bersama-sama, harapan agar kau selalu ada bersama denganku, aku sangat ingin menghapusnya dari pikiranku. You know, I hope too much. And because of it, I’m hurt”

John menatap Linda. Kata-kata yang dikeluarkan Linda diikuti oleh air mata yang membasahi wajahnya. John menggerakkan tangannya untuk mengusap air mata di wajah Linda, namun Linda menepis tangannya. Ia terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang Linda lakukan.

No, just don’t. Don’t touch me. Go away.”

John terdiam mendengar dengan perkataan Linda. Kata-kata yang ia tidak sangka akan keluar dari mulut Linda. Kedua matanya memancarkan betapa sakitnya ia mendengarkan kata-kata itu. Memang, ia yang memulai semua ini. Ia bingung apa yang harus ia katakan.

I’m sorry”, John menatap Linda.

Sorry?”, tanya Linda.

“Kata itu tidak cukup untuk menghilangkan apa yang aku rasakan karenamu”, Linda mengusap air matanya.

“Sudahlah, aku ingin pulang. Lebih baik, kita tidak usah bertemu lagi”, lanjutnya. “Tapi….”, John belum menyelesaikan kalimatnya. “Ini untuk kebaikan kita berdua…  tidak, ini untuk kebaikan ku. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku”, jawab Linda lalu berjalan meninggalkannya.

“Linda”, panggil John. Linda tidak menoleh, ia terus berjalan. “Linda Lee!” Linda terus berjalan menuju  pintu keluar taman. Air mata terus mengalir di wajahnya. “LINDA!” Ia tidak menghiraukan John. Ia tidak berharap John akan mengejarnya. Harapan bersama John sudah hilang.

Keluar dari taman itu, ia bergegas berjalan ke pinggir trotoar dan memanggil taxi.  Ia naik ke dalam taxi dan memberitahukan supir taxi  alamat apartemennya.

Lalu, ia  menangis di dalam diamnya. Ia menyesali apa yang ia katakan pada John. Tidak ingin bertemu lagi? Tidak, ia masih ingin bertemu. Tidak berharap? Sebenarnya ia ingin John mengejarnya. Mengejar dan memintanya untuk bertahan. Tetapi, semua itu sudah berlalu. Ia tidak ingin mengingat apa yang terjadi hari ini. Ia ingin menghapus semuanya.

 

***

You asked me, ‘Do you know what is love?’

I don’t know until you told me

You showed me

Love is you

Your smile, your hugs, your eyes, your voices

And everything about you

Then, you go away

Leaving me with false hope

Hoping you will stay but you don`t

 

-to be continued-

NB:

Part 4 akan dirilis sekitar 2 minggu lagi karena writer ada event! Happy reading and Enjoy!

-hanniehan

Short-Stories: Erase – Part 2 ‘Lost’

Langit sudah gelap sepenuhnya. Gelap namun ditemani oleh sinar bulan dan bintang. Linda masih berjalan menyusuri jalan trotoar. Kedua matanya yang memerah tidak begitu terlihat dibawah sinar malam itu. Jalan raya pun sudah dipenuhi kendaraan orang-orang yang baru pulang kerja.

Lalu, ia mulai merasa lapar. Ia mampir ke sebuah mini-market. Mengambil beberapa snack yang biasa ia beli. Saat mengambil, ia mulai teringat akan satu hal. Semua snack yang diambilnya itu adalah snack yang suka ia makan bersama-sama dengan John. Ia mulai mengembalikannya satu persatu ke tempatnya masing-masing. Rasa laparnya serasa hilang begitu saja. Ia keluar dari tempat itu.

Sulit memang, semua benda atau apapun itu, kecil atau besar, makanan atau minuman, pasti akan membuatnya ingat pada pria itu. “Terlalu banyak memang, kenangan bersamamu terlalu banyak John”, gumamnya. Linda berjalan dan terus berjalan tanpa tujuan. Akhirnya, ia sampai di sebuah taman.

Everlasting Park”. Taman yang sebenarnya tidak ingin ia kunjungi lagi. Banyak sekali waktu yang John dan ia habiskan di taman itu. Lalu, Linda duduk di bangku yang menjadi tempat favorit mereka di taman itu.

Everlasting Park! Like our love dear, everlasting love.”

Suara John pada hari itu masih terdengar sangat jelas di telinganya. Seakan, John berada tepat di sisinya dan baru saja mengatakannya.

Yes dear, like our love, I love you so much.”

Linda mengucapkan kembali jawaban yang ia katakan pada John pada hari itu sambil memejamkan matanya. Kenangan mereka pada hari itu juga masih tergambar jelas di ingatannya.

 

***

Flashback

Hari itu, John sedang bercerita kepada Linda tentang seorang cashier di café yang membuatnya jengkel pada hari itu.

“Orang itu memberikan pelayanan yang sangat tidak baik. Ia melayani semua pembeli dengan tatapan kosong dan dengan nada seperti orang yang tidak memiliki semangat sama sekali”, ceritanya dengan wajah yang sebal. “Dan memang benar, bukan hanya aku saja yang merasakannya, orang lain juga setuju dengan pendapatku. You know, I can do it better than him.” Linda hanya mengangguk-ngangguk dan menahan tawa melihat kekasihnya itu.

Kebiasaan John yang tidak pernah hilang. Ia paling tidak suka dengan pelayanan yang tidak baik. Ketika ia tidak puas, ia akan menceritakannya berulang-ulang sampai akhirnya ia berhenti dengan sendirinya. Namun, bagi Linda, saat-saat itulah yang paling ia suka karena John terlihat menggemaskan ketika ia sedang sebal.

“Apa ada yang lucu?”, John bertanya dengan serius. “Tidak. Tidak ada sama sekali”, jawab Linda dengan tersenyum. “Kau pasti menertawakanku”, John memandang Linda dengan tatapan sebal. “Tidak dear, untuk apa menertawakanmu”, kata Linda.

Mereka terdiam sebentar sampai akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh tawa Linda. Suara tawa yang cukup besar untuk seorang wanita mungil. “Dear, you’re really funny”, Linda mencubit pipi John. John menarik Linda mendekat dengannya lalu memeluknya. Linda sedikit terkejut namun ia langsung membalas pelukan John. Ia memeluk John dengan sangat erat.

Suasana menjadi hening. Keramaian di jalan raya dekat taman juga sudah mulai sepi. Saat yang tenang untuk merenungkan apa saja yang sudah dilewati pada hari itu.

Linda dapat merasakan apa yang John rasakan. Terkadang tanpa kata-kata, mereka bisa merasakan apa yang dirasakan masing-masing.

I’m so glad to have you in my life”

“Me too”

Kata-kata yang biasa namun berarti bagi mereka. Kata yang menunjukkan betapa besarnya cinta mereka satu sama lain.

 

 

Namun semua itu hanya kenangan.

Kenangan yang memilukan hati dan sulit dihapus dari ingatan.

 

 

-to be continued-

Miss

Dissapointed?

Yes, I am dissapointed.

It’s like you gave me a false hope.

Sad, mad, that’s how I feel.

 

But then, I realized what have I done to you.

Now I understand, how and what you feel when I gave you that false hope.

That false hope,

I told you we can meet, while we can’t.

Did that a couple of times.

I feel it now, I feel it.

 

I can’t do that. I shouldn’t be selfish.

Thinking about myself and not you.

 

I can’t do that.

I need to think about you.

It is me. Something is wrong with me.

 

I think we can blame the word “miss”.

Because of “miss”, I acted like I’m out of water.

Yeah, my water, that’s you.

Thirst and need you the most.

 

I won’t let those thoughts come to me.

I’ve trust you and will always trust you.

 

 

“Just some thoughts of the night for someone out there.”

 

Short-Stories: Erase – Part 1 ‘Unexpected’

Bayangan matahari mulai menghilang dari pandangan. Disaat yang sama, seorang wanita memandangi langit yang mulai gelap dengan tatapan kosong. Linda Lee, seorang mahasiswi jurusan fashion design di London College of Fashion. Kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam pikiran dan membuatnya memenjamkan mata sejenak.

“Setidaknya aku bisa menenangkan pikiranku”, gumamnya. Namun, itu tidak membantunya sama sekali. Ketika memejamkan matanya, hanya wajah orang itu yang ada di pikirannya. Seolah-olah, orang itu ada di hadapannya. Rasa sakit itu datang lagi kepadanya. Tanpa disadari, air mata sudah membasahi wajahnya.

***

John Bolton, pria yang sangat ia cintai. Pria yang sudah membuat banyak kenangan bersamanya. John adalah seniornya di universitas dan mereka adalah pasangan yang populer di kalangan junior mereka. Ketika Linda ada di library, John ada di situ. Ketika Linda ada di cafeteria, disitu juga ada John. Kemanapun, mereka selalu bersama-sama. Pergi dan pulang kuliah berdua seperti tidak ada yang bisa memisahkan mereka.

“Linda, ada yang ingin ku bicarakan”, kata John dalam telepon. “Apa itu?”, jawab Linda. “Jadi..”, sebelum John menyelesaikan kalimatnya, “Apakah itu tentang seberapa besar cintamu padaku?”, kata Linda. “Bukan dear, memang aku sangat mencintaimu tapi ada hal lain yang ingin ku bicarakan”, jawab John. “Bolehkan aku datang ke rumah?”, lanjutnya. “Tentu boleh dear, aku akan menunggumu dan membuatkanmu kopi. Cepat datang sebelum kopinya dingin”, jawab Linda. “Yes dear, I’ll come right away”, jawab John dan ia menutup teleponnya.

Ding dong

Suara bel pintu berbunyi. “Sebentar!”, kata Linda. Ia baru saja membereskan apartemen kecilnya itu. Tugas design ada dimana-mana dan ia belum sempat membereskannya. Tapi karena John akan datang, ia membereskannya secepat kilat. Walau sebenarnya, belum terlalu beres. “Tapi sudahlah, yang penting sudah sedikit rapi”, pikirnya.

Linda berjalan mendekat ke pintu apartemennya. Dan ketika ia membuka pintu, pria yang dicintainya tidak sendiri. Ia ditemani dengan sebuah teddy bear dan satu buket bunga lily kesukaannya. “Hey dear, for you”, kata John sambil memberikannya kepada Linda. “Okay, I’m speechless. Thanks dear!”, jawab Linda dan langsung memeluk John. “Come on, kopinya masih hangat”, lanjut Linda.

“Silahkan, Kopi Expresso pesanan anda Pak. Selamat menikmati.” Linda menaruh kopi di meja dan bertingkah seolah ia seorang pelayan di café. John hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum. Wajar baginya melihat tingkah kekasihnya itu. Linda duduk berhadapan dengan John. Lalu,  John meminum kopi itu dan sambil tersenyum ia berkata, “Hangat dan enak seperti biasanya.”

“Tentu saja, siapa lagi yang bisa membuatkan kopi seenak yang kubuat? Aku rasa tidak ada.”, gumam Linda dengan senyum puas dan bangga. John tertawa dan berkata, “Ya, baiklah, hanya Linda Lee yang bisa membuatkan kopi yang sangat enak di dunia ini!” Mereka tertawa bersama, tawa mereka memenuhi ruangan itu.

Okay, jadi apa yang ingin kau bicarakan?”, tanya Linda. Wajah John berubah menjadi muram. “Ada apa dear?”, lanjut Linda. John berdiri dan menghampiri Linda. Ia menarik Linda dari kursi secara perlahan dan membuat Linda berdiri berhadapan dengan dirinya. Ia memandangi wajah Linda lalu memeluknya dengan erat. Linda bingung namun ia membalas pelukan John. Mereka berpelukan tanpa berbicara apa-apa. Lalu, ia mencium kening Linda. “Dear, ada apa?”, tanya Linda lagi.

John melepaskan pelukannya dan hanya tersenyum kepada Linda. Ia tersenyum tetapi kedua matanya tidak. Matanya menunjukkan kesedihan yang dalam. Seolah, air mata akan keluar tanpa hitungan detik. John kembali ke kursinya dan menghela nafas.

“Berakhir.” Linda memandangi John dengan tatapan bingung. “Apa maksudmu?”, jawab Linda.

“Berakhir. Kau dan aku, kita, berakhir.”

 

 

to be continued

Ingin

Ingin ku menghilang dari bumi

Untuk melihat rindumu padaku

Ingin ku pergi menjauh

Untuk kau mengejarku

Ingin ku rasakan cinta seperti di layar kaca

Walau aku tahu cinta tidak seindah itu

Aku ingin kau mengerti, memahami isi hatiku

Aku ingin kau percaya bahwa rasa ini benar ada

Aku pun ingin kau bertahan, bertahan di sisiku

Walau ku tahu, tak bisa ku paksa dirimu

Aku takut, aku resah, aku tidak ingin kau pergi

Mungkin karena cinta ini, aku jadi buah bibir

Mungkin aku dihakimi

Tapi ketahuilah bahwa semua ini, perkataanku ini

bukanlah omongan belaka

Walau banyak perkara yang kita lewati

Aku hanya ingin satu hal

Satu hal saja

Tetaplah disisiku

Saling membangun, saling mendukung

Kasihku, hanya itu yang ku ingin darimu

 

Jumat, 13-05-2016

-hanniehan